Rabu, 18 November 2009

Double Espresso ... Double Martini ... Hmmm ...


Oktober 2008

08.20 pagi. Matahari belum merangkak naik terlalu tinggi. Langit berwarna loyang, berselimut awan mendung tipis berlapis. Dheandra, berjalan berjingkat menghindari genangan air sisa hujan dinihari. Rok kuning gading delapan sentimeter di bawah lututnya gemulai menari, mengikuti jingkat-jingkat kaki panjangnya. Dirapatkan sweater ungu terang menutupi lehernya yang jenjang, saat kakinya menapak pintu masuk. Ramah disapa perempuan belia, resepsionis berwajah manis dari klub kebugaran yang dikunjunginya pagi itu. Bergegas setelahnya, kaki-kaki panjang menuntunnya ke sayap kiri, ke coffee shop area.

Coffee shop tujuan Dheandra belum terlalu padat pengunjung. Ada dua lelaki bule dan dua perempuan yang juga bule di satu sudut ruangan, asyik berbincang. Kelihatannya keempat bule usai berolah tubuh. Wajah segar kemerahan, tubuh padat berotot. Gelas-gelas isi orange juice, satu piring isi buah segar warna-warni dan satu piring isi beberapa lembar roti panggang menghiasi meja mereka. Di sudut berbeda, ada dua lelaki pribumi berperut buncit, asyik juga berbincang, sambil sesekali menyeruput kopi susu. Nasi goreng komplit berikut emping garing gurih menjadi teman ngopi mereka. Keduanya sama sekali tak terlihat usai berolah tubuh. Hmmm ... dua sudut pandang yang tak kompak.

Dheandra terus melenggang, tak memperdulikan keberadaan keempat bule. Ia bahkan tak juga memperdulikan pandangan nakal dua laki-laki pribumi berperut buncit. Dua laki-laki yang mencoba tersenyum ramah saat wangi rose parfume menyeruak dari semampai tubuhnya. Wangi bunga mawar yang mengalahkan semerbak wangi kopi susu, dalam cangkir-cangkir setengah kosong, milik dua laki-laki pribumi berperut buncit, yang masih saja memandang nakal.

Mata Dheandra lekat tertuju pada pemandangan terindah pagi itu. Pada satu meja, di bawah jendela besar, di bagian luar terlihat biru air kolam renang. Seorang perempuan yang tidak lagi muda, namun masih terlihat sangat cantik menarik, rambut lurus sebahu, make-up minimalis, duduk sendiri. Gaun terusan mini warna biru langit berpadu sempurna dengan kemilau putih kulitnya. Syal sutra motif batik hijau pupus menghiasi leher. Tak tampak kedinginan meski semilir angin saat itu cukup menggigit kulit. Di mejanya secangkir cafe latte panas masih terlihat penuh. Asap latte berbaur dengan kepulan asap rokok light menthol. Perempuan berkulit putih cantik itu terlihat sangat menikmati kegiatan merokoknya. Agatha, nama perempuan itu, selalu memilih gaun, make-up, minuman, rokok bahkan meja yang selaras dipandang.

Merekah senyum Agatha demi dilihat bayangan Dheandra, sahabatnya mendekat, “Morning Dhe darling ...” sapanya riang. Dua kecupan dihadiahkan, mendarat sempurna di pipi kiri-kanan sahabatnya.

“Pagi Tha ... maaf aku telat. Biasalah ... macet,” Dheandra menarik kursi di hadapannya. Merapikan gaun kuning gadingnya saat ia duduk. Dan dengan isyarat tangan memanggil salah satu pramusaji untuk datang mendekat.

“Double espresso ... panas ... makasih ya mas,” tanpa melihat menu yang disodorkan, Dheandra meminta pesanan kopi paginya.

Di hadapannya Agatha tersenyum lebar, setelah sebelumnya sukses menghembuskan asap putih menthol, “Well darling ... sejak kapan double martini pagi lu jadi double espresso?”

Cukup satu senyuman untuk menjawab pertanyaan Agatha. “Ah yaa ... gimana gw bisa lupa ... Bhimo pastinya,” Agatha tertawa ringan, menjawab sendiri pertanyaannya ... lanjutnya, “Dhe and Bhi ... as always ... the cute couple.” Kembali gumpalan asap putih menthol berhembus.

“Tha ... kau yakin boleh merokok di meja ini?” duduk tak nyaman, Dheandra melemparkan pandangan ke sekeliling ruangan, “Sudah berapa batang yang kau hisap?" lanjutnya menyelidik.

“Dheandra ... lu lihat kan, mereka nggak komplain dengan rokok gw,” Agatha mengangguk ringan ke arah pramusaji berseragam putih-hitam di salah satu sudut ruangan. “Ini batang yang kedua, kenapa ...?? Gw lumayan bete tau, nungguin lu dateng,” bahkan dengan bibir cemberut pun perempuan bergaun biru langit itu masih terlihat sangat cantik.

“Sehari masih kuat delapan batang?” Dheandra tak mengubris rajukan manja sahabatnya.

“Sepuluh ... duabelas ... empatbelas ... siapa peduli?” asap menthol putih sekali lagi mengepul-ngepul menari di udara. Sejujurnya Dheandra sangat terganggu dengan tarian asap berikut aroma menthol putih.

Duuhhh ... makin merajuk. Dipandang tanpa kedip wajah sahabat baiknya. Bening bola mata Agatha tertutup selaput tipis warna loyang. Warna yang sama dengan warna langit pagi itu. Warna yang tidak sama dengan warna bola mata Agatha delapanbelas belas tahun lalu. Lembut Dheandra berkata, ”Tha ... sayang ... kau pastinya tahu kan bahaya merokok?”.

“Oh please Dhe ... dan lu pastinya tahu juga kan akibat ngopi yang berlebihan macam kebiasaan lu itu?” kali ini dimatikan light menthol kedua yang baru setengah dihisap. Tangan putih mulusnya menekan keras ujung batang putih rokok hingga bengkok tak beraturan di dasar asbak, yang kebetulan juga berwarna putih.

Dheandra tersenyum melihat tingkah laku kekanakan Agatha. “Sekarang cukup secangkir sehari, pagi saja.”

Agatha berdiri, berjalan cepat ke arah kolam renang. Tak digubrisnya sama sekali jawaban sahabatnya.

“Heiii ... mau kemana Tha ...?!”

Agatha berteriak, renyah, “Kemarin gw beli bikini baru, mau gw coba, yuk kita renang!” Tanpa menunggu persetujuan Dheandra, dilepasnya terusan mini biru langit berikut syal hijau pupus dari tubuh putihnya. Dibuang sekenanya ke salah satu kursi malas berbahan kayu di pinggir kolam. Sekali lompatan, bikini baru warna biru tua ikut basah bersama tubuh pemiliknya, dalam air kolam yang dingin, di pagi hari berlangit warna loyang yang juga dingin. Tiga puluh lima tahun ... tubuh putih bersinar kemilau di antara riak biru air kolam yang dingin, tubuh putih masih berlekuk sintal indah.

Cukup dua putaran, gaya dada, membuat nafas Agatha tersengal berat. Faktor usia, kebiasaan buruk merokok, kelelahan di putaran kedua, pada panjang kolam hanya duapuluh lima meter. Bukan Agatha yang dikenalnya dulu.

“Giiiiillllaaa ... !!!! Cape gw Dhe ... !!!!” Keluar dari kolam yang dingin, Agatha menggigil. Melilitkan serampangan kimono handuk putih miliknya, lalu menghempaskan tubuh mungilnya ke kursi kayu malas. Setelahnya, tangannya sibuk mencari-cari bungkus light menthol di dasar tas besar, yang berwarna biru motif daun kembang sepatu warna hijau terang. Tak ia temukan yang dicari. “Dheeeee .... !!!!” teriaknya, kali ini kesal, tak lagi renyah.

Dheandra menyodorkan bungkus batang-batang langsing putih berikut lighter keperakan. Pelan disentuh lengan sahabatnya, “Agatha ... ada apa sebenarnya denganmu?”

Cepat dinyalakan lighter. Dihisap dua kali batang putih yang mulai memercikkan api kecil di ujung bagian luar. Dihembuskan riang asap demi asap dari belahan bibir mungil merah muda. Disandarkan punggung ke kursi kayu malas. Agatha mulai terlihat tenang setelah sepuluh hisapan.

“Thanks double espresso,” santai Agatha berujar. Kembali dihisap kuat-kuat surga dunianya, “You know what darling ... I’ve been living in HELL ....” Agatha mencoba tersenyum, sekilas, getir, sangat getir.

Hening ... Dheandra hanya diam mengamati polah tingkah sahabatnya. Kembali Agatha tersenyum. Sejenak. Kemudian melambaikan tangan ke arah pramusaji yang terlihat melintas. Ujarnya, “Mas ... tolong beri saya double martini.”

bersambung ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar