
Kulipat rapi mukena putihku selepas tahajud semalam. Tetes air mata yang masih menyisa di sudut garis luar mata kembali kuseka dengan ujung punggung tangan. Air mata bahagia, usai ku-bersyukur atas limpahan nikmat-Mu yang tak kunjung putus padaku Tuhan.
Pelan kulangkahkan kaki menuju pembaringanmu. Kau pulas terlelap, terlihat begitu damai dalam tidurmu. Matahari kecilku. Kuusap rambut panjangmu dan kucium keningmu perlahan, khawatir membangunkan nyenyak tidurmu. Sayangku ... apa yang dikirimkan Tuhan dalam mimpimu malam ini? Aku mohon ya Rabb ... berikan hanya mimpi-mimpi terbaik bagi gadis mungilku. Agar ia terbangun setiap pagi dengan pekikan gembiranya, menceritakan mimpi bahagianya dan tak pernah lelah mengejar setiap mimpi indahnya.
Aku tersenyum, teringat saat pertama menyentuh jemari kecilmu sembilan tahun lalu ... lembut. Ya Tuhan, tak akan pernah terlupakan saat terindah dalam hidupku itu. Enggan ... seakan tak ingin kau lepas, semakin erat kau genggam ujung telunjukku. Ahhhh ... sayang, aku juga enggan melepas tubuh mungilmu dari dekapanku. Kupandang lekat-lekat wajah cantik malaikat-mu. Tuhan, jika ciptaan-Mu telah sedemikian sempurna, apalagi diri-Mu. Subhanallah .... terima kasih Tuhan, sungguh beruntungnya aku.
Sembilan bulan aku membawamu yang semakin berat dalam rahimku. “Ikhlas ya sayang ...,” pinta ayahmu selalu padaku. Sembari mengelus perut besarku yang semakin bulat membuncit, seringkali aku bertanya-tanya dalam setiap duduk dan berbaringku. Seperti apa kelak rupamu, mirip ayahmu-kah, mirip aku-kah, akan lengkap-kah seluruh anggota tubuhmu, akan sayang-kah kau kelak pada ayah-bundamu. Dan ayahmu tak pernah bosan menenangkan gelisahku, “Dengan doamu, dengan doaku, Insya Allah ... Tuhan akan memberikan titipan-Nya yang terbaik bagi kita.” Demi Allah nak, saat itu aku sangat menginginkan semua kebaikan ayahmu diberikan Sang Khalik untukmu.
Kepalaku berdenyut-denyut seakan siap meledak. Menjelang kehadiranmu, aku meringis menahan sakit yang luar biasa di sekujur tubuh. Memalukan sebenarnya, karena sakit itu pasti dirasakan oleh setiap perempuan yang memang kodratnya melahirkan. Hanya 30 jam saja rasa sakit itu nak, namun pembukaan jalan lahir tidak juga naik mendekati angka 10. Hingga ku tak lagi kuat dan memohon-mohon ayahmu agar sudi membujuk dokter perempuan ‘anti cesar’ itu mengeluarkan ijin cesar-nya. Tapi ayahmu hanya tersenyum ‘dipaksakan’ dan mengelus pipiku, “Sabar sayang ... dokter Ita tidak menganjurkan cesar. Kau pasti bisa, aku yakin kau pasti bisa. Melahirkan normal itu lebih mulia bagi seorang Ibu.” Tahukah kau nak, rasanya ingin sekali menjambak rambut tebal ayahmu dan berteriak keras-keras di telinganya, “Lalu, kenapa bukan kau saja yang melahirkaaaannnnnn ... !!!”. Astaghfirullah ... maafkan kelakuan burukku saat itu ya Tuhan, maafkan aku suamiku.
Dan saat mendebarkan itu pun tiba. Dengan masker oksigen menutup hidung dan mulutku, aku si ‘pesakitan’ digiring ke kamar persalinan. Entah ada berapa perempuan berseragam hijau muda berseliweran di ruangan putih dengan bau karbol yang sangat pekat itu. Mataku mulai berkunang-kunang saat kulihat dokter Ita tersenyum memandangku dan memberi instruksi untuk mulai mengejan hanya saat kontraksi tiba. Ayahmu berdiri setia di samping kananku. Tangannya tak pernah lepas sesaat pun merangkul pundakku. Masih sempat kudengar bisikannya di sela erangan kesakitanku, “Ingat cara ‘mengejan’ waktu latihan senam hamil ya sayang ...”. Ya Tuhan ... jangankan mengingat ‘itu’, bahkan bernafas pun rasanya sudah sangat menyusahkan.
Kontraksi pertama gagal membawamu menikmati indahnya dunia. Kontraksi kedua pun memberikan hasil serupa. Tergolek kehabisan tenaga, aku menangis mengiba, “Aku lelah suamiku ... aku sangat lelah ... “, berderai air mata, tanganku menggapai-gapai tangan ayahmu mencari tambahan kekuatan di sana. Sekilas kulihat wajah dokter Ita, dengan kerut di keningnya, tak lagi seoptimis seperti saat awal memasuki kamar persalinan. Dipanggilnya ayahmu, berbisik berdua, entah apa yang mereka perbincangkan.
Ayahmu kembali padaku, kedua tangannya menyentuh pipiku, mata teduhnya meminta penuh harap padaku. Lembut namun tegas ia berkata, “Sayang ... anak kita sudah di ujung jalan lahir, ia kelelahan berjuang sendirian, anak kita butuh kekuatan ibunya, ia ingin segera dipeluk ibunya. Aku minta, satu dorongan sekali lagi saja, sekali saja. ‘E’ ... cuma kamu perempuan yang aku inginkan melahirkan anakku.” Dan dikecupnya dahiku yang dingin, basah, penuh keringat.
Entahlah mukjizat apa yang akhirnya menghadirkanmu ke dunia. Jakarta, 13 November 2000, pukul 15.10 wib, tepat saat berkumandangnya adzan Ashar. Di kamar persalinan putih itu, bantuan kuasa Tuhan kurasakan sungguh luar biasa. Kulihat dokter ‘anti cesar’ tersenyum puas mengangkat bayi perempuan merah yang menangis keras di tangannya. Dokter perempuan yang juga luar biasa.
Di sudut lain ayahmu mengangkat kedua tangannya. Beberapa kali kudengar ia menyebutkan kebesaran Asma Allah dan meruntunkan rasa syukur. Nak ... ayahmu menangis ... laki-laki yang telah kukenal 11 tahun, semasa SMA itu, menangis. Kedatanganmu sayang ... membuat bahagianya tumpah-ruah, hingga meluaplah tetes air mata itu. Masih dengan pipinya yang basah, tangannya yang gemetar, ia memelukku. Dikecupnya keningku, kemudian pipiku, kemudian bibirku, kemudian lirih ia berbisik, “Anak kita sayang, anak kita lahir ... terima kasih Tuhan, terima kasih istriku ... I love you ...” tangis laki-laki itu pun kembali pecah.
Drama penuh air mata itu usai saat suster berseragam hijau muda datang menghampiri. Balutan kain merah muda menyelimuti bayi mungil dalam dekapannya. Senyumnya merekah saat ia berkata, “Ibu ... selamat ... bayinya perempuan ... cantik sekali.” Perlahan, dibaringkan dirimu di samping kiri tubuhku. Jadi ... inilah ‘anakku’ ....
Aku ... tak pernah percaya ‘love at first sight’. Tak masuk logika, aroganku selalu berkata. Namun sayang ... menatapmu pertama kali ... membuatku terjungkir balik dengan seluruh ‘arogan logika-ku’. Ya Tuhan ... ternyata cinta pandangan pertama itu memang ada. Sayangku ... matahari kecilku ... indah sekali dirimu nak ... Ada rasa teramat nyaman di dada hanya dengan memandangmu. Dua bulir air mata kembali menetes membasahi pipi. Terbayar sudah semua lelah dan rasa sakit itu ... I love you little sunshine ...
Sembilan tahun sayang ... kau hadir menjadi pelipur laraku dan ayahmu ... kau hangatkan selalu hati kami ... kau ceriakan selalu rumah kita. Terima kasih telah mengajariku menjadi ibu dengan kasihmu. Terima kasih telah mengajariku cara bersabar. Terima kasih telah mengajariku cara mencintai.
Selamat ulang tahun ‘ananda’ ... jadilah perempuan yang soleha, cukuplah itu pintaku pada-mu ... selebihnya biarlah Pencipta-mu memilihkan yang terbaik untukmu ... Karena itu yang selama ini dan selalu Ia pilihkan untuk-mu, untuk ayah-mu, untuk-ku ... untuk keluarga kecil kita. Matahari kecilku ... bunda ... selalu sayang kamu ‘ananda’ ...
Jakarta, 13 November 2009.
ilustrasi: koleksi pribadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar