Va memandang suaminya mematut diri di depan cermin. Celana jeans biru muda dan kemeja putih lengan pendek bergaris vertikal tipis membuat Jo, laki-laki yang sembilan tahun ini selalu setia menemani tidurnya, terlihat begitu tampan di usianya yang menjelang kepala empat. Sedari pagi bibirnya bersiul riang. Entah lagu apa yang didendangkannya. Va sangat terganggu dengan siulan ‘prenjak’ yang mendadak berubah sangat ceria.
“Jam berapa acaranya?” mencoba tersenyum, meski hambar, Va berlagak lupa dengan jadwal reuni suaminya.
“Jam sebelas ... sepuluh menit lagi aku berangkat ya sayang ...” tanpa menoleh, Jo menyisirkan ‘hair gel’ dengan kedua tangannya dan membuat rambut tebal hitamnya bergelombang natural.
Va melirik jam dinding bundar hitam di kamar bernuansa ‘peach’ sendu, sesendu hatinya saat itu, pukul 09.05. Masih tersedia cukup banyak waktu hingga jarum jam bergerak ke arah 11.00. Namun laki-laki di depannya terlihat tak sabar dengan pertemuan yang menurutnya ‘langka’. Setelah 22 tahun tak jumpa, begitu alasannya.
“Jam sebelas masih lama ... weekend begini, jalanan juga nggak bakal macet,” Va berharap ada penjelasan masuk akal. Kegundahan hatinya semakin menjadi-jadi.
Masih tidak menoleh, malah tersenyum lebar di depan cermin, Jo menyemprotkan tiga kali ‘musk’ parfume ke tubuh padatnya. Va membeli minyak wangi itu dua bulan lalu, kado ulang tahun untuk Jo. Ia tergila-gila dengan aromanya, setelah bercampur dengan keringat Jo.
“Sayang ... aku perlu beli buah dulu, aku kebagian tugas bawa buah,” ringan sekali jawaban suaminya.
Menghela nafas panjang, Va mencoba bersikap lebih lunak. Dipeluknya tubuh Jo dari belakang, disandarkan pipi kirinya di punggung wangi suaminya, “Tak bolehkan aku ikut?” rajuknya manja, “Aku ingin sekali ikut.”
Kali ini Jo tertawa ringan. Va selalu terbuai dengan tawa itu. Dibayangkan perempuan-perempuan lain pemuja suaminya, mungkin juga terbuai dengan tawa itu. Jo membalikkan tubuhnya, memandang dalam-dalam mata Va. Mata istrinya saat itu bagai kolam bening, namun penuh dengan riak gelombang, siap menumpahkan air mata. Dijentiknya hidung Va sekali, katanya, “Kamu tahu kan istriku, tidak ada di antara kami yang membawa pasangan.”
“Flo akan ada di sana ... perempuan pertama yang mengisi relung hati kamu akan ada di sana ...” tak lagi terbendung, bulir air mata itu pun jatuh menggenangi pipi tirusnya.
“Va ... please ... not again,” lembut Jo menyeka basah pipi istrinya, “Dia masa lalu aku, sudah lama aku kubur bayangannya. Sayang ... aku memilih menikahimu bukan?” Jo mengusap perlahan rambut panjang istrinya. “Sudah ya sayang ... aku pergi sekarang. Bye ... I love you ...” dikecup ringan kening Va. Sigap mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja rias. Berlalu keluar kamar, tanpa menoleh lagi.
Tercekat di tenggorokan, dibalik korden jendela lantai dua kamar tidur mereka. Perempuan berambut panjang itu hanya dapat memandang mobil hitam laki-laki yang dicintainya menderu perlahan meninggalkannya.
Ada rasa sakit yang menusuk-nusuk ulu hatinya, “Tapi suamiku ... aku tahu, raga dan jiwa perempuan masa lalu yang cantik itu akan selalu mengisi tempat di salah satu sudut terdalam hatimu,” isaknya perlahan.
Diraihnya mukena kuning gading miliknya. Dihamparkannya sejadah motif dedaunan corak musim gugur di lantai kamar tidurnya yang dingin. Masih tersedia cukup banyak waktu menunaikan shalat Dhuha. Gemericik air dingin mulai menenangkan galau hatinya. Tuhan ... hanya Diri-Mu Penjaga terbaik baginya, bisiknya lirih.
ilustrasi: lupa ngambilnya dimana ... :-)
kisah pribadi ya bosss E ? hahaha
BalasHapusHmmmm ...
BalasHapusTahu-kah mas Joko ... tnyata bbrp rangkaian status di jejaring sosial yg 'ntu tuuuhhh ... di-modif2 dikit, bisa jadi satu tulisan pendek ini ... ;-)